Oleh Roja Nabila Putri

Gadis tersebut berjalan dengan pepohonan pelan rimbun dengan langkah-langkah. Banyak pertanyaan berlomba-lomba memikirkan sekarang.

Aku dimana?

Kok aku bisa di sini?

Bukannya tadi aku tidur di kamar?

Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya yang terlintas. View hutan ini begitu indah, bertahan dengan gambar di buku cerita dongeng yang sering dia baca sebelum tidur.

Apakah hutan ini aman?

Apakah ia akan bertemu dengan nenek sihir yang jahat atau raksasa pemakan anak?

Dalam buku cerita dongeng yang ia baca memang seperti itu biasanya. Tapi anehnya, ia tidak merasa takut, malah semakin penasaran, karena kalau dugaannnya benar maka ia pasti bertemu dengan pangeran tampan. Hal itu yang membuat ia tak ragu untuk terus berusaha meningkatkan jalan setapak di tengah-tengan pepohonan rimbun itu.

Langkahnya terhenti ketika manik hazelnya menangkap sesuatu yang familiar di ujung sana. Ia tak shalat lihat bukan? Di ujung sana terlihat menara dengan satu jendela seperti menara yang pernah ia lihat dalam film tangled lengkap dengan pemandangan tebing serta air terjun dan pepohonan asri di sekitarnya.

A pakah ia akan bertemu Rapunzel? Ia begitu bersemangat , tanpa sadar ia berlari menuju menara sambil memanggil Rapunzel dengan harapan tokoh-tokoh Disney favoritnya itu menurunkan. Ia ingin naik ke atas dan bertemu dengan Rapunzel.

“RAPUNZEL!! RAPUNZEL!”

Sesuai dugaannya, tak lama kemudian ada rambut berwarna pirang mengulur dari atas sampai ke dasar menara tempat dia berdiri. Ia tersenyum bahagia, tanpa pikir panjang ia segera meraih rambut itu. Ia perlu memanjat menggunakan rambut itu, tapi rambut itu secara perlahan menariknya ke atas, hal itu membuat dia bebas melihat pemandangan yang ada di sekitar menara. Lagi-lagi ia prakiraan. ternyata pemandangan di sini jauh lebih cantik jika dibandingkan dengan film yang diucapkan.

Sesampainya di bibir jendela, ia segera memanjat dan masuk ke dalam menara itu. Benar saja, menara ini adalah menara Rapunzel, karena terdapat lukisan lentera dengan Rapunzel yang duduk di bawahnya. Ia pun melihat Rapunzel berdiri di depan pintu sambil menatap dengan aneh.

“Rapunzel, ini aku. Aku senang bisa melihatmu!” soraknya girang sambil berlari ke arah tokoh Waltz Disney kesayangannya itu. Bukannya mendekat, Rapunzel malah berlari keluar kamar itu. Apakah Rapunzel takut padaku? Mana mungkin, aku bukan nenek sihir, aku hanya kanak-kanak yang tersesat yang kesepian. Ia butuh teman, ia ingin berteman dengan Rapunzel.

“Rapunzel, tunggu aku!”

Ia mengejar Rapunzel, tapi sayang ia tersandung oleh kayu lalu jatuh ke lubang yang cukup besar.

Ia menengadah ke atas, sekarang ia berada di sebuah kamar yang gelap.

Di mana ini? Di mana Rapunzel?

Pandangannya mulai buram, dan kepalanya terasa terasa. Rasanya mau pingsan, ia harus keluar dari kamar ini dan bertemu dengan Rapunzel.

“Rapunzel, tolong aku!” hening tak ada jawaban.

“Rapunzel, dimana engkau!” tetap tak ada jawaban. Kepalanya kembali berdenyut, ini lebih sakit dari yang tadi. Badan mulai, ia merasa ketakutan. Sepi dan teras sangat sunyi.

SIAPAPUN ITU TOLONG KELUAR AKU DARI SINI!!

Jeritnya pelan sambil tak sadarkan diri.

Koto Gaek, 17 Juni 2022