Karya Roja Nabila Putri, 5 Juni 2022

Jam menunjukkan pukul 23.11 WIB. Benda itu tak pernah lelah memberikan info waktu kepada siapa saja yang melihat dan membutuhkannya, termasuk gadis-gadis yang sekarang gelisah di bawah sambil menghitung angka dengan jari-jarinya yang kurus.

“1005, 1006,1007”

Lucu ya, tapi ibunya bilang, dengan menghitung angka bisa membuat orang lebih cepat pernah terjadi. Hanya itu tujuannya sekarang. Ia takut sekali, jika ibunya masuk ke kamar. Ibu pasti marah, dan mencapnya sebagai anak yang nakal. Namun mata dan kesadarannya tak mau bekerja sama, padahal jam yang sudah menunjukkan angka 23.15 WIB. Ia merasakan keringat dingin dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dada nya sesak, dan ia mulai merasakan dan sakit dikepalanya. Hal itu membuat saya semakin tidak nyaman.

Tak ada jalan lain, ia harus meminum obat. Padahal ia sangat benci pada benda kecil yang pahit itu. Ia segera membuka laci nakas, mengambil obat sakit kepala dan langsung meminumnya. Untung sekali botol air minum yang diletakkan di atas nakas masih ada. Sehingga tidak perlu repot-repot ke dapur.

Ia segera mengambil posisi nyama di tidur, menutup seluruh badan dengan selimut dan menghitung angka dengan jarinya dan dimulai dari angka nol

“….5, 6, 7……..”

Pengaruh obat sudah mulai bekerja, matanya mulai berat. Perlahan tapi pasti, ia merasa melihat menutup rapat, perlahan lahan semuanya mulai gelap. Dan ia pun terbang kealam mimpi.

Setelah sekian lama, akhirnya ia terbangun tak kala suara burung sayup-sayup sampai ke telinganya. Ia pun mengucek matanya guna bisa melihat objek di depannya dengan jelas. Perlahan pemandangan hijau pekat dengan pohon rimbun menjulang menyapa atensinya. Sepertinya di sini sudah siang, terlihat dengan jelas cahaya yang masuk di antara celah pepohonan menyiram dirinya.

Sesaat ia tersadar, bahwa ia berada di dalam hutan. Ia bukan lagi berada di kamarnya. Bukankah tadi malam ia sibuk berhitung agar matanya bisa terlelap. Apakah ia bermimpi? Ia segera mencubit pipinya. Sakit sekali!, berarti ini nyata.  Apakah bisa mimpi di dalam mimpi?  Entahlah ia masih belum yakin.

Ia segera memandang kesekeliling, ia menebak bahwa di sini adalah hutan, dengan pepohonan rimbun hijau pekat sepanjang mata memandang. Namun sepertinya ini bukan hutan biasa, banyak jamur merah dengan bulatan-bulatan putih di atasnya, ditambah juga dengan bunga-bunga cantik yang biasa ia lihat di buku cerita dongeng.Sungguh pemandangan yang sangat indah.

Apa ini hutan fantasi? Mengapa ia sendiri? Apakah ini akan sama seperti cerita putri salju? Apakah ia akan bertemu dengan tempat bertemu yang berkuda putih? Apakah ia telah pindah dimensi? Entahlah, banyak pertanyaan yang hilir mudik dikepalanya. Ia menghela napas panjang, sekarang hanya ada dia dihutan ini. Yang menjadi pertanyaan besar di benaknya kini adalah

“Sekarang Aku dimana?”

Bersambung