SMA Negeri 2 Sumbar

Search

Analisis Unsur Fisik Puisi Kerling Goda Lembaran Ilmu Karya Nikma Hy

Kerling Goda Lembaran Ilmu

Sembunyi di balik dunia
Gemetar kelabui kilauan harta
lambat laun senja berlari menuai kelam
barisan jaga menantang rapi tak tersentuh
kala tanya tiba pada sebuah jiwa
tetap, bacaan terasa tidak biasa..
Dewa waktu berparas rindu
jua mesin ilmu yang tak bermuara
selalu jampikan senandung istimewa
tetap, tak pernah bisa menyentuh
duka telah pergi..
mata menanti hati
tersirat rintih suci di juang kalbu
menemui barisan tanya penemu jawab
ayat putih penyejuk leluasa amuk
tersisa Satu
bacaan tiada sirna untuk kau pergi, meski
menanti hari di ujung pagi
Originally by: Nikma_Hy

Oleh Septa Harse Putra, S.Pd.

Guru SMA Negeri 2 Sumatera Barat

Puisi merupakan salah satu genre sastra yang menitikberatkan kata (diksi) sebagai medianya. Pada penciptaan sebuah puisi pengarang biasanya banyak dipengaruhi oleh berbagi faktor seperti cinta, fenomena, realita sosial, dan sebagainya. Melalui puisi, pengarang bebas mengungkapkan perasaan dan imajinasinya untuk dituangkan dalam bentuk sebuah karya yang bernilai estetis. Sebagai karya yang imajinatif puisi tidak hanya dipenuhi oleh renungan yang indah-indah, memikat, tragis, menyedihkan, dan kaya akan lelucon-lelucon, akan tetapi lebih dari itu puisi juga berusaha mengkaji dan memahami hakikat manusia ketika berhadapan dengan hidup dan kehidupan.

NikmaHydalam puisi Kerling Goda Lembaran Ilmu(KGLI) mencoba mengangkat sebuah realita sosial ketika manusia dalam perjalanan hidup begitu panjang namun tetap tidak bisa menemukan sesuatu yang dapat memuaskan dahaga jiwa. Pencarian itu akhirnya bermuara pada satu titik dimana membaca merupakan suatu hal yang dapat menyejukkan jiwa. Segala kesedihan dan kegalauan dalam hidup dapat teratasi ketika membaca berbagai bacaan yang bermanfaat.Nikma Hy dalam puisinya berusaha menyadarkan kita semua betapa membaca merupakan sebuah peristiwa yang luar biasa (tetap, bacaan terasa tidak biasa.).

Layaknya sebuah karya sastra, puisi juga memiliki unsur pembangun yang disebut dengan unsur fisik dan unsur batin. Berikut penulis akan mengurai unsur fisik yang membangun puisi KGLI karya Nikmatul Hayati.

1.

Perwajahan (Tipografi) Dalam puisi ini pengarang telah menggukan tipografi dalam puisinya. Hal ini terlihat dalam susunan baris dalam bait puisi yang tidak sama antara bait 1 dengan 2, bait 2 dengan 3, dan seterusnya. Selain itu, penggunaan tanda baca pun "dipermainkan"oleh pengarang. Seperti penggunaan dua buah titik (.) pada beberapa kalimat. Penggunaan tipografi ini pada akhirnya menimbulkan makna tertentu pada sebuah puisi

"tetap, bacaan terasa tidak biasa.."

"duka telah pergi.."

Pada kutipan di atas penggunaan dua buah tanda baca titik (.) menimbulkan makna kalimat yang berbeda. Kalimat yang awalnya hanya kalimat pernyataan biasa berubah menjadi kalimat penegasan.

2.

Diksi Pilihan kata dalam puisi diatas terlihat cukup rumit. Pengarang terlihat sangat sabar dalam merangkai kata untuk menemukan efek keindahan dalam puisinya. Kesabaran pengarang dalam memilih diksi terlihat jelas pada kata-kata yang digunakan dapat menimbulkan makna kiasan tertentu. Kemampuan pengarang dalam menyatukan imajinasi liarnya berujung pada sebuah karya dengan kekuatan diksi yang kental.

3.

Imaji (Citraan)

Dalam puisi ini sudah terlihat pengarang menggunakan pengimajian meski belum begitu kuat. Nilai rasa atau citraan yang muncul adalah penglihatan (Dewa waktu berparas rindu) dan pendengaran (selalu jampikan senandung istimewa).

4.

Gaya Bahasa Gaya bahasa (dalam hal ini majas) yang muncul dalam puisi ini cukup kuat. Pengarang terlihat cukup kuat dalam menggukan metafora dalam puisinya. Hampir setiap lariknya sarat akan metafora. Meskipun metafora terlihat dominan, beberapa majas lain juga terdapat dalam puisi ini, seperti Personifikasi (lambat laun senja berlari menuai kelam), Oksimoron(menemui barisan tanya penemu jawab ), Aliterasi(bacaan tiada sirna untuk kau pergi, meskimenanti hari di ujung pagi).

5.

Rima dan Irama Dalam puisi ini penulis sepertinya tidak terlalu memperhatikan unsur bunyi dalam karyanya. Hal ini terlihat dari sedikitnya bunyi (vocal) yang sama dalam kata atau kalimat yang dirangkai oleh pengarang. Pada puisi ini hanya terdapat satu irama yang diciptakan oleh pengarang, yaitu: bacaan tiada sirna untuk kau pergi, meski menanti hari di ujung pagi.

Puisi sebagi karya yang imajinatif tentu memiliki perspektif berbeda dari berbagai pembaca, baik pembaca biasa maupun pembaca kreatif. sedetail apapun seseorang mengurai sebuah puisi dan menggunakan teori apa pun tetap saja makna hirarki puisi tersebut tersimpan dalam jiwa pengarangnya. Demikianlah analisis puisi yang diurai secara sederhana, semoga dapat berguna dalam pembelajaran puisi di tingkat sekolah atau masyarakat umum.

Karya Inovasi terbaru

  • WAWASAN PEMBELAJARAN: Pemahaman Terhadap Peserta didik
  • Tinjauan Historis Budaya Merantau