SMA Negeri 2 Sumbar

Search

Tinjauan Historis Budaya Merantau

Tinjauan Historis Budaya MerantauYasri, S.Pd.,M.M. Guru Mapel Sejarah SMAN 2 Sumbar

Oleh Yasri, S.Pd.,M.M.

Guru SMA Negeri 2 Sumatera Barat

Saya sangat terkesan menonton film Merantau yang dibintangi Iko Uwais, karya sutradara Inggris, Gareth Evans. Film ini mengisahkan dua sahabat sekampung yang telah mumpuni dalam bela diri silat.Beratnya kehidupan diperantauan membuat mereka berubah.Dua sahabat itu terjebak komplotan dan mafia, hingga akhirnya harus berhadapan dalam sebuah pertarungan mematikan, dengan peragaan Silat Harimau yang terkenal itu. Menarik, bahwa film itu berisi kisah merantau yang sangat inspiratif dan fenomenal.

Fenomena merantau dalam masyarakat Minangkabau ternyata telah menjadi sumber inspirasi para pekerja seni dan sastrawan. Novel dan roman karya Hamka bercerita tentang penghidupan orang-orang Minang di perantauan dengan segala suka dan duka, perjuangan dan konflik, misalnya novel Merantau ke Deli, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck,Di Bawah Lindungan Ka'bah.Dalam novel yang disebut terakhir, Hamka mengisahkan tantangan yang dihadapi seorang anak muda dalam masyarakat adat Minangkabautempat induk bakonya sendiri.Cintanya terhalang oleh adat dikampung yang dianggap sudah usang. Selain Hamka, ada Marah Ruslidengan novelnya Siti Nurbaya, dan Abdul Muisdengan Salah Asuhan-nya. Setting penceritaan tentang perantau Minangdalam novel-novel tersebut mengambil persinggungan pemuda perantau Minang dengan adat budaya Barat. Novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi, mengisahkan perantau Minang yang belajar di pesantren Pulau Jawa. Dalam bentuk yang berbeda, lewat karyanya berjudul Kemarau, A.A Navis mengajak masyarakat Minang untuk membangun kampung halaman yang ditinggal pergi merantau.

Pertanyaannya kemudianadalah "Kenapa merantau menjadi budaya masyarakat Minangkabau?" Tinjauan historis berikut ini mungkin dapat menjelaskannya.

Akar Budaya Merantau

Pertama, menurut Rudolf Mrazek, sosiolog asal Belanda, menyebut dua tipologi budaya Minang, yakni dinamisme dan anti-determinasi. Dua hal ini melahirkan jiwa merdeka, kosmopolitan, egaliter, dan berpandangan luas.Faktor ini menyebabkan timbulnya keinginan yang besar untuk mencari kehidupan di negeri orang.

Kedua. Adanya semangat untuk mengubah nasib. Pepatah Minang yang mengatakan "Karatau madang di hulu, babuah babungo balun, karantau bujang dahulu, di kampuangpaguno balun" (lebih baik pergi merantau karena di kampung belum berguna). Inilah filsafat budaya yang menyemangati pemuda Minang untuk merantau sejak muda.

Ketiga. Sistem kekerabatan matrilineal. Dalam sistem kekerabatan ini, penguasaan pewarisan harta pusaka dipegang oleh kaum perempuan, sedangkan hak kaum pria dalam hal ini sangat kecil. Dikampung-kampung Minangkabau sejak masa akil baligh para pemuda tidak lagi boleh tidur di rumah orang tuanya.Mereka harus tidur dan belajar di surau.Rumah hanya diperuntukkan untuk kaum perempuan beserta suami-suami mereka serta anak-anak.Keadaan ini mendorong kaum laki-laki pergi merantau.Jika telah berhasil dan pulang kembali, mereka diharapkan membantu sanak saudara dikampung. Hal ini ternukil dalam pepatah "Ujan ameh di nagari urang, ujan batu di kampung awak."

Keempat. Tradisi "pulang kampung"atau mudik adalah eksodus pulang ke kampung menjelang hari raya Idul Fitri. Pulangnya para perantau sekaligus untuk menunjukkan keberhasilan mereka mencari penghidupan di rantau dengan membawa uang dan simbol materi lainnya. Hal ini diungkap dalam pepatah "Pai mambawo kanti, pulang bagalang ameh."Ketika kembali ke rantau, biasanya mereka akan membawa sanak dan kerabat untuk ikut merantau. Orang-orang usia produktif yang tidak pernah mencoba merantau menjadi bahan olokan teman-teman sebayanya.

Kelima. Pada masa belakangan ini wanita Minangkabau pun sudah ikut merantau. Tidak hanya karena alasan ikut suami, tapi juga karena ingin berdagang, mencari pekerjaan, meniti karier dan melanjutkan pendidikan.Keenam.Pendidikan di surau sejak lama berperan mendukung budaya merantau.Tujuan utamanya adalah untuk melanjutkan pendidikan agama ke jenjang yang lebih tinggi.Sejak awal abad ke-20 banyak anak-anak muda dari berbagai kampung melanjutkan pendidikan mereka ke sentra pendidikan Minangkabau di Padang Panjang dan Bukittinggi,seperti di Thawalib Padang Panjang yang sebelumnya dikenal dengan Surau Jembatan Besi, Diniyah Puteri, Tarbiyah Canduang, Thawalib Parabek.Setelah tamat, bahagian banyak dari mereka berdakwahdan menyebarkan syiar Islam, yang dikenal dengan istilah "urang siak", dan bahkan menjadi ulama terkemuka.

Merantau dan Pendidikan

Sebagian pemuda yang tamat pendidikan SLTP/SLTA atau pendidikan madrasah tarbiyah dan surau, terdorong untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Mereka tergolong "perantau intelektual,"yaitu pemuda yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, baik pendidikan agama maupun pendidikan umum.

Pada abad ini, merantau dalam konteks melanjutkan pendidikan merupakan motif utama yang menjadi alasan pemuda Minang meninggalkan kampung mereka. Sekolah-sekolah yang bermutu baik menjadi incaran mereka, juga perguruan tinggi favorit di dalam dan luar negeri.Untuk menyebut contoh terbaik adalah Proklamator Mohammad Hatta yang merantau untuk kuliah di Leiden, Belanda.

Apabila kita tarik ke belakang, pada akhir abad ke-18, banyak pelajar Minang yang merantau ke Mekkah (Timur Tengah) untuk mendalami agama Islam, ber-tafaqquh fiddin.Di antaranya Haji Miskin, Haji Piobang, Haji Sumanik. Kembali di Tanah Air, mereka menjadi penyokong kuat gerakan Paderi dan menyebarluaskan pemikiran Islam yang murni di seluruh Minangkabau dan Mandailing. Gelombang kedua perantauan ke Timur Tengah terjadi pada awal abad ke-20, yang dimotori oleh Abdul Karim Amrullah (HAKA), Tahir Jalaluddin, Muhammad Jamil Jambek, dan Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Ahmad Khatib adalah orang non-Arab pertama yang menjadi imam besar Masjidil Haram.

Selain ke Timur Tengah, pelajar Minangkabau juga banyak merantau ke Eropa. Mereka antara lain Abdoel Rivai, Mohammad Hatta, Sutan pamuncak, Sutan Syahrir, Roestam Effendi, dan Mohammad Amir. Di samping itu, termasuk pula tokoh sepertiTan Malaka.Beliau hidup mengembara di delapan negara Eropa dan Asia, dan membangun jaringan pergerakan kemerdekaan Asia. Semua pelajar Minang yang merantau ke Eropa sejak akhir abad ke-19tersebut, menjadi pejuang kemerdekaan dan pendiri republik (Founding Father Indonesia).

Faktor Ekonomi dan Demografi

Masalah ekonomi orang Minang pada masa ini terutama adalah tingginya pertambahan penduduk tapi tidak diiringi dengan perkembangan Sumber Daya Alam yang dapat diolah dan sulitnya lapangan kerja. Menurut Joshuaproject & Encyclopdia Britannica (diakses tahun 2015), populasi orang Minangkabau berjumlah delapan juta orang. Di Sumatera Barat sendiri etnis Minang berjumlah 4,2juta orang.

Luas wilayah Sumatera Barat empat jutahektar, yang bisa dikonversi menjadi lahan pertanian, ladang dan hunian hanya sekitar 1 juta hektar. Selebihnya adalah gugusan Bukit Barisan dan hutan lindung.Jika dahulu hasil pertanian sawah dan ladang, menjadi sumber utama ekonomi yang sanggup menghidupi keluarga, maka dewasa ini tidak lagi memadai memenuhi kebutuhan hidup.Hasil-hasil produksi ekonomi tersebut harus dibagi untuk beberapa keluarga, dan secara turun temurun.Penduduk terus berkembang pesat, kepemilikan lahan tanah makin hari makin sedikit. Pada gilirannya terjadilah kemiskinan struktural atau kemiskinan yang diwariskan.Kenyataan ini kemudian makin mendorong orang-orang Minang pergi merantau.

Pada zaman Kolonial telahterbuka lapangan kerja baru, dengan dibukanya daerah perkebunan, pertambangan dan munculnya kota-kota barudi Indonesia. Kota berubah menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, industri, dan pendidikan sertatumbuhnya pasar. Perkembangan terakhir initelah mendorong terjadinya migrasi,dan pada gilirannyamembuka peluang usaha yang lebih luas bagi perantau dan saudagar Minang.Beberapa kota destinasyperantau Minang adalah Jakarta, Pekanbaru, Medan, Jambi, Palembang, Batam dan sejumlah kota lainnya. Bahkan sampai ke Negeri Jiran Malaysia, dan Sydnei Australia.

Faktor utama yang mendorong orang Minang pergi merantau adalah motif ekonomi,mengadu nasib di negeri orang. Untuk kedatangan pertamadi tanah rantau, biasanya para perantau menetap terlebih dahulu di rumah dunsanak yang dijadikan induk semang. Para perantau baru ini biasanya memulai usaha dengan berdagang di kakilima.Sebagiannya kemudian tumbuh hingga akhirnya memiliki toko.

Merantau dan mengembangkan usaha seperti ini merupakan pola meritokrasi, yaitumerekrut sanak saudara sekampung. Dalam meritokrasi ini, bisnis orang Minang dikembangkan dengan basis skillyang dimiliki orang-orang dikampung halaman. Untuk menyebut beberapa contoh, orang Koto Tinggi piawai mengolah emas dan perak, dan mereka banyak menjadi pedagang emas,orang Silungkang dan Pandaisikek menguasai kerajinan alat rumah tangga, souvenir, dan bordir (konveksi pakaian jadi), orang Pariaman pandai menjahit, dan kuliner, orang-orang Payakumbuh berjualan kumango, orang Solok berdagang beras.

Rumah makan Padang dengan masakan khas Minang tersebar di seluruh Nusantara dan bahkan telah mendunia. Jika diklasifikasi profesi perantau Minang adalahusaha rumah makan dan restoran atau kuliner, penjahit dan konveksi, grosir dan eceran pakaian, pedagang emas serta berbagai jasa.Sebahagian dari perantau itu sukses menjadi saudagar, pengusaha, enterpreneur, tapi sebagiannya juga sukses sebagai politisi dan akademisi.*)

Karya Inovasi terbaru

  • WAWASAN PEMBELAJARAN: Pemahaman Terhadap Peserta didik
  • Analisis Unsur Fisik Puisi Kerling Goda Lembaran Ilmu Karya Nikma Hy